Salahkah Aku Mencintainya?


Assalamualaikum Wr.Wb.

Halo.... sobat blogger... Gimana kabarnya???? Maaf saya baru bisa posting lagi. Ya karena kesibukan saya sebagai seorang pelajar๐Ÿ˜…. Tapi saya usahakan memberikan sedikit waktu saya untuk memposting sedikit kisah maupun ilmu yang saya rangkum dari berbagai sumber buku๐Ÿ˜ƒ.

       Saya kali ini tidak akan memposting tentang ilmu pengetahuam islam, tapi saya akan memposting tentang sebuah cerita yang mengharukan๐Ÿ˜Ÿ. Saya tidak akan memberikan sipnosis tentang cerita ini. Saya ingin kawan-kawan sendiri yang menyimpulkan inti dari kisah cerita ini๐Ÿ˜ƒ. Berikut ini kisahnya..... Cekidot..!!!!



       Kyai Abu Hasan, pimpinan pondok pesantren Al-Umar Magelang, pernah mengatakan bahwa sejahat-jahatnya manusia, mereka masih bisa disentuh fitrahnya. Dari sini kita bisa menggaris bawahi pesan beliau, bahwa manusia dapat hidup sesuai fitrah-nya. Ftrah membimbing manusia untuk senantiasa berada dalam jalan Rabb-Nya. Memberikan nilai kepekaan tinggi terhadap apa-apa yang diperbuat dan senantiasa mengikuti (ittiba’) Allah dan Rasul-Nya. Melabuhkan kembali jiwa dan raganya pada Sang Pencipta.

 Cinta Fitri

     Fitrah adalah pembawaan yang bersifat alamiah yang membuat manusia akan bertanya, merasakan bahkan mempelajari hakikat dirinya. Tentang dari mana dia berasal, untuk apa dia diciptakan dan mau kemana dia setelah dan mau kemana dia setelah kehidupan di dunia ini. Kondisi fitrah mengajarkan manusia mengenal diri dan Tuhannya yang merupakan kunci pokok hakikat penciptaan.

      Cinta kepada lawan jenis merupakan bagian dari fitrah bagi manusia. Tentu wajar yang dialami Delia, ketika ia mencintai lawan jensnya. Justru aneh dan ganjil bukan ketika Delia mencintai sesama jenisnya? Namun, perasaan kepada lawan kenis bisa menjadi anugerah sekaligus fitnah. Tidak jarang kita jumpai orang menuai masalah dikarenakan ada cinta di hatinya. Semangat dakwah jadi luntur, ibadah mengendur, ukhuwah pun tak bisa lagi diukur, gara-gara hanya memanjakan cinta kepada lawan jenisnya.

     Sebut saja lelaki itu bernama Arya. Dia seorang aktivis yang bisa dibilang tangguh. Semangat dakwahnya tinggi, ilmunya pun mumpuni sebagai seorang aktivis dakwah. Hari-harinya selalu dipenuhi dengan aktivis mengajak orang pada kebaikan. Dia selalu semangat untuk berjuang bersama teman-temannya dalam sebuah lemabaga dakwah. Tetapi belakangan ini semangatnya mulai menurun. Ia jarang rapat dan sering bolos dalam kegiatan. Alasan sibuk sering menjadi argumennya ketika teman-temannya dalam menanyakan ketidak aktifannya.  

      Namun, akhirnya teman-teman Fuad pun tahu, ternyata sang ativis ini sedang jatuh cinta pada seorang gadis! Begitu besarnya cinta bagi sang gadis, begitu berartinya mempertahankan cinta, sehingga dakwah tak lagi sepenting dulu. Hari-hari untuk mengingat agenda dakwah begitu mudah tergantikan dengan mengingat agenda bersama pujaan hatinya. Dakwah menjadi nomor dua, tiga atau seterusnya.

      Hal yang dirasakan Fuad sering kita jumpai. Entah itu aktivis dakwah, mahasiswa, politisi, bahkan kalangan “maaf” miskin papa sekalipun. Kadang cinta bisa melemahkan bahkan melenakan seseorang pada tanggung jawabnya. Keindahan semu dalam cinta pada lawan jenis ini membuat hati terus saja memikirkan, merindukan dan memujanya. Padahal, hal ini bertentangan dengan bukti cinta kepada Allah sebagai nilai ketauhidan.

    Apa yang dialami Fuad tidak perlu terjadi jika mampu memegang tauhid secara benar.  dan penandasan (itsbat), yaitu manafikan segala bentuk ketuhanan selain Allah dan esensi yang di-itsbat-kan, yaitu Allah. Dengan demikian kecintaan pada Allah akan menyelamatkannya dari cinta semu melenakan.

   Lalu muncul pertanyaan : apakah salah orang jatuh cinta kepada lawan jenis? Dalam hal ini bukan semata-mata jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’ yang diperlukan. Namun, bagaimana kemudian menyikapi cinta itu sendiri, mengingat hampir setiap orang mempunyai cinta. Allah menganugerahkan cinta bukan tanpa tujuan. Tidaklah sia-sia segala sesuatu yang diciptakan Allah dimuka bumi ini melainkan Allah berikan pelajaran berharga dibalik semua itu. Cinta bukan untuk dikotori, ia adalah kesucian yang tidak layak diwarnai dengan kemaksiatan, terlebih lagi melalaikan dari cinta yang sebenarnya. Sebab, bagaimanapun juga cinta dihadirkan menjadi jalan dalam rangka menggapai cinta yang sebenarnya.

        Pantaskah kemudian kita menyebut cinta sebagai fitrah, bila tanda-tanda kesucian hilang satu per satu? Masih layakkah cinta disebut fitrah bila hanya menyisakan sebuah penyesalan bagi orang lain? Lho kok orang lain? Ya, karena yang biasanya dirugikan adalah orang lain. Karena yang menyadarinya adalah orang lain sementara sang pelaku enjoy aja.

      ‘Pasangan’ itu bernama Rindu dan Tio. Mereka sudah saling mengikat janji untuk menikah. Namun, suatu hari mereka terpisah oleh jarak. Rindu begitu berharap Tio akan memenuhi janjinya, hingga setiap laki-laki yang meminangnya ia tolak segera. Tak terasa usianya sudah menginjak kepala tiga. Rindu kerap menjadi pembicaraan orang lain karena belum juga menikah. Sementara Tio tak kunjung juga meminangnya. Ia pun kemudain mencari tahu kabar Tio yang sebenarnya. Ternyata, orang yang begitu ia banggakan telah lama menikah dengan orang lain! Rindu sanagat terpukul, merasa sangat kecewa. Dan ia pun akhirnya menjadi fobia terhadap laki-laki.

     Berharap cinta manusia memang sering kali membuahkan kecewa. Apalagi jika cinta itu tidak dilandasi karena Allah. Padahal, bisa saja bagi rindu beristikharah dulu sebelum memutuskan untuk menolak laki-laki yang meminangnya daripada menanti sesuatu yang tidak pasti. Karena melakukan penolakan terus menerus bisa menjadi fitnah. Apalagi jka laki-laki itu adalah pemuda yang saleh. Kalaupun setelah berusaha ternyata tidak berjodoh, setidaknya ia telah bersandar pada Allah dalam mengambil keputusan. Bukan menjadikan rasa cintanya sebagai ukuran untuk mengambil langkah.

   Suatu hari Allah mempertemukan saya dengan seorang gadis berusia 32 tahun. “Saya menyesal membiarkan semuanya lewat”. Kalimat ini keluar dari mulut perempuan itu. Sebuah ungkapan penyesalan atas sikapnya yang duu terlalu pilih-pilih saat ada laki-laki yang meminangnya, harus ini harus itu hingga seolah tidak ada yang cocok untuk dirinya. Padahal, hanya Allah sajalah yang Mahatahu. Walau demikian, engkau pun tak boleh hanya mengandalkan felling, perasaan, sekadar “asal dia mau dengan saya” lantas engkau mau bersanding dengannya, tanpa menjaga murnian cinta sebenarnya.


   Di sisi lain, lamanya belum berjodoh sementara usia semakin bertambah seorang perempuan yang semulia salehah bisa memudarkan satu per satu kebiasaan baiknya. Ia rupanya tidak cukup kuat untuk menjaga keinginan untuk bersegara menikah. Kecintaannya pada lawan jenis telah membuatnya semakin perkara mudah menjaga cinta dalam fitrahnya. Namun, bukan mustahil pula membingkai cinta dalam fitrah. Semoga engkau dan saya tetap istiqamah dalam cinta pada-Nya.

Al-Khawarizmi dan Riwayat Angka Nol

Assalamualaikum Wr Wb

Teman-teman yang dirahmati oleh Allah, kali ini saya akan mengeshare tentang ilmuan islam yang melambungkan nama islam dengan menemukan rumus matematika yang kita sebut sekarang dengan aljabar. Di bawah ini adalah biodata dan sepak terjang beliau. Masih ada banyak lagi artikel-artikel yang akan saya share tentang sepak terjang beliau dalam dunia ilmu pengetahuan, jadi terus kunjungi blog ku karena blog ini mengeshare ilmu bukan mengeshare sara.
Al-Khawarizmi yang bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa Al-Khawarizmi adalah salah seorang matematikawan muslim yang sering dikaitkan dengan tempat kelahirannya, khawarizmi. Pada masa itu Khawarizmi merupakan pusat penelitian asia yang terkenal dan selalu dikenang. Penulis sejarah matematika kenamaan, George Sarton mengungkapkan bahwa Al-Khawarizmi adalah salah satu ilmuwan muslim terbesar dan terbaik pada masanya. Sarton menyatakan juga bahwa periode antara abad keempat sampai kelima sebagai “Zaman Al-Khawarizmi karena ia adalah ahIi matematika terbesar pada masanya.
                Namun menurut sumber yang lain, Al-Khawarizmi hidup sekitar awal pertengahan abad ke-9 M. Ia lahir di Khawarizm, Uzbekistan pada tahun 194 H/780 M dan meninggal pada tahun 266 H/850 M di Bagdad. Dalam usia mudanya, pada masa khalifah Al-Ma’mun, ia bekerja di bait Al-Hikmah di Bagdad. Di sana ia bekerja dalam sebuah observatory tempat ia menekuni studi matematika dan astronomi. Di sana, ia juga dipercaya untuk memimpin perpustakaan sang khalifah.
                Di Barat, terutama di Eropa, Al-Khawarizmi lebih dikenal dengan nama  Algoarismi atau Algoarism. Nama Algorism, pada abad-abad pertengahan, kemudian dipakai orang-orang barat dalam arti kata-kata aritmatika(Ilmu Hitung). Dengan menggunakan angka-angka Arab. Di Perancis, nama Algorism juga muncul sebagai Augrym atau Augirsm, sedang di Inggris digunakan kta Augrym dan Augrim. Di Spanyol ia mengalami sedikit perubahan menjadi Alguariame. Demikian seterusnya, sehingga nama Al-Khawarizmi akhirnya menjadi sebuah monument dalam sejarah aljabar yang kini telah berkembang menjadi matematika. Karena yang menemukan ilmu itu tak lain adalah Al-Khawarizmi sendiri. Algorisme sendiri merupakan system hitungan nilai menurut tempat, dari kanan ke kiri, puluhan, ratusan, ribuan, dan seterusnya, begitu pula system decimal(persepuluhan) sebagai umum pengganti system sexagesimal(perenampuluhan) yang umum dicapai zaman dulu dalam kebudayaan-kebudayaan Semit.
      A.      Riwayat Angka Nol
Pada saat yang hampir bersamaan, ketika “algebra” sedang diterjemahkan, John dari Seville membuat sebuah versi bahasa Latin terkenal yang merupakan penyesuaian dari karyanya sendiri atau karya beberapa penulis muslim, yang telah hilang dalam versi bahasa Arab kecuali”Kitab Hisab al-Adab al-Himal”. Karya John dari Seville itu berjudul “Libe Algorisme de Pratica arismetrice”.
                
Nol itu bukanlah sebuah tanda tapi sebuah ruang kosong”. Ini merupakan sebuah ide yang didapatkan jauh lebih awal dalam “mafatih al-Ulum” atau “Keys of the Science”.  Angka nol atau kosong, dalam bahasa Arab disebut sifr. Dengan angka ini kita dapat menghitung puluhan, ratusan, ribuan dan seterusnya. Sebelum angka nol ditemukan atau diciptakan oleh orang islam, orang menggunakan abacus sempoa semacam daftar yang merupakan jadwal dimana ditunjukkan satuan puluhan, ratusan dan seterusnya untuk menjaga agar setiap angka tidak saling tertukar dari tempat yang telah ditentukan dalam hitungan. Saying sekali bahwa abacus ini kurang popular di kalangan pemakai. Terbukti ketika Bhoetius dan Gerbert mencoba memperkenlkannya di Barat pada sekitar abad ke-10 M. Ternyata kurang mendapat perhatian. Orang malah meninggalkan dan berganti memakai raqam al-binji penemuan Al-Khawarizmi. Orang islam membawa angka ini bersama dengan angka nol, yang baru menggunakannya setelah kira-kira 250 tahun dipakai oleh umat islam itu sendiri. Yang mungkin perlu ditelusuri lebih lanjut adalah mengenai penggunaan titik kecil sebagai pengganti angka nol yang hingga kini tetap terpakai dalam penulisan angka Arab.

               Bentuk actual angka-angka yang kurang penting untuk operasi-operasi digambarkan dalam “Liber Algorismi”, namun operasi-operasi tersebut dilakukan dengan cara 9 atau 10 simbol-simbol yang secara tidak langsung menyatakan suatu pengetahuan tentang aturan-aturan yang di uraikan secara terperinci oleh Al-Khawarizmi. Di Spanyol cara ini telah dikenal sekitar abad ke-10 M. Yang membuktikan adanya suatu cara penulisan bilangan dengan system posisional dengan dasar 10. Dalam hal bentuk angka-angka yang digunakan pada waktu itu, sementara masih dilacak terus.

Wassalamualaikum Wr.Wb

Pacaran itu Haram?



Assalamualaikum wr.wb

Teman-teman semua yang dirahmati Allah, kali ini saya akan mengepost sebuah artikel yang berjudul Pacaran itu Haram?.  Mungkin ketika mendengar pertanyaan seperti itu kita langsung beropini dengan mengatakan "mana mungkin haram, kan banyak sekali orang yang berpacaran" jika teman-teman beropini seperti itu berarti opini teman-teman semua bertentangan dengan apa yang telah ditulis di Al-Qur'an dan Al-Hadits yang mengatakan pacaran itu memang benar-benar haram hukumnya. Daripada teman-teman makin ragu dan bingung lebih baik saya akan menjelaskan tentang pacaran dalam pandangan Al-Qur'an dan Al-Hadits.

 Pacaran yang dikenal secara umum adalah suatu jalinan hubungan cinta kasih antara dua orang yang berbeda jenis yang bukan mahrom dengan anggapan sebagai persiapan untuk saling mengenal sebelum akhirnya menikah

Inilah yang mungkin patut dipertanyakan kepada orang-orang yang melakukan pacaran apakah mereka yakin bahwa yang mereka pacari adalah mahrom yang disahkan untuk mereka??
Jelas - jelas dalam islam kalau seseorang mendekati seorang yang bukan mahramnya, berarti itu disebut dengan zina. Seperti yang dijelaskan dalam firman Allah di bawah ini:

                                       ูˆَู„ุงَ ุชَู‚ْุฑَุจُูˆุง ุงู„ุฒِّู†َุง ุฅِู†َّู‡ُ ูƒَุงู†َ ูَุงุญِุดَุฉً ูˆَุณَุงุกَ ุณَุจِูŠู„ุงً

Artinya : Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu      perbuatan yang keji dan seburuk-buruk jalan”. (Al Isra’ [17] : 32).

Berkaitan dengan ayat ini seorang ahli tafsir Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah- mengatakan dalam tafsirnya:

 Larangan mendekati suatu perbuatan nilainya lebih daripada semata-mata larangan melakukan suatu perbuatan karena larangan mendekati suatu perbuatan mencakup larangan seluruh hal yang dapat menjadi pembuka/jalan dan dorongan untuk melakukan perbuatan yang dilarang”.
  
Kemudian Nabi Agung Muhammad SAW dalam haditsnya berkata :
   Barangsiapa yang mendekati suatu perbuatan yang terlarang maka          dikhawatirkan dia terjatuh pada suatu yang dilarang”.

Jika kalian masih mengatakan "Pacaran belumlah dikatakan sebagai perbuatan yang mendekati zina" bukankah orang yang paling mulia akhlaknya, yang paling sempurna sifatnya dan yang memberikan kita penerang dari kegelapan dosa dan penyejuk dari api neraka telah mengatakan dalam firmannya:
ูˆَ ุงุญْูَุธُูˆْุง ูُุฑُูˆْุฌَูƒُู…ْ ูˆَ ุบَุถُّูˆْุง ุฃَุจْุตَุงุฑَูƒُู…ْ ูˆَ ูƒَูُّูˆْุง ุฃَูŠْุฏِูŠَูƒُู…ْ
Jagalah kemaluan kalian, tundukkanlah pandangan-pandangan kalian dan tahanlah tangan-tangan kalian”.
Dalam hadits yang mulia ini terdapat perintah untuk menundukkan pandangan dan
hukum asal dari suatu perintah baik itu perintah Allah ‘Azza wa Jalla ataupun perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wajib dan adanya tunututan untuk melaksanakan apa yang diperintahkan dengan segera

Dari yang sudah dijelaskan diatas bahwa hukum dari pacaran itu sudah jelas haram.
Tapi jika ada yang bertanya "kalau seandainya pacaran tidak dibolehkan maka bagaimanakah dua orang insan bisa menikah padahal mereka belum saling kenal?"
Maka kita katakan pada orang yang beralasan demikian dengan jawaban yang singkat namun tegas bukankah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik petunjuk? Bukankah Beliau adalah orang yang paling kasih kepada ummatnya tidak memberikan petunjuk yang demikian? Firman Allah ‘Azza wa Jalla

ู„َู‚َุฏْ ุฌَุงุกَูƒُู…ْ ุฑَุณُูˆู„ٌ ู…ِู†ْ ุฃَู†ْูُุณِูƒُู…ْ ุนَุฒِูŠุฒٌ ุนَู„َูŠْู‡ِ ู…َุง ุนَู†ِุชُّู…ْ ุญَุฑِูŠุตٌ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ุจِุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠู†َ ุฑَุกُูˆูٌ ุฑَุญِูŠู…ٌ
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, amt berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (At Taubah [9] : 128).
Dari surat diatas sudah dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling kasih pada umatnya, yang menginginkan jalan yang terbaiknya untuk umatnya agar beliau tidak memberikan petunjuk yang membuat umatnya merasa terberatkan. Simak pula sabda Rasulullah di bawah ini :

ุฅِู†َّู‡ُ ู„َู…ْ ูŠَูƒُู†ْ ู†َุจِู‰ٌّ ู‚َุจْู„ِู‰ ุฅِู„ุงَّ ูƒَุงู†َ ุญَู‚ًّุง ุนَู„َูŠْู‡ِ ุฃَู†ْ ูŠَุฏُู„َّ ุฃُู…َّุชَู‡ُ ุนَู„َู‰ ุฎَูŠْุฑِ ู…َุง ูŠَุนْู„َู…ُู‡ُ ู„َู‡ُู…ْ ูˆَูŠُู†ْุฐِุฑَู‡ُู…ْ ุดَุฑَّ ู…َุง
                                                                                                                                          ูŠَุนْู„َู…ُู‡ُ
Sesungguhnya tidak ada Nabi sebelumku kecuali wajib baginya menunjukkan kepada umatnya kebaikan yang dia ketahui untuk umatnya, dan mengingatkan semua kejelekan yang dia ketahui bagi umatnya…”.
Setelah kalian membaca artikel diatas lalu, contoh kalian bertanya seperti ini. "kalau seandainya pacaran tidak dibolehkan maka bagaimanakah dua orang insan bisa menikah padahal mereka belum saling kenal?"Bukankah Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan dan mempraktekkan bagaimana tatacara menuju pernikahan? Apakah Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkan kepada kita cara mencari pasangan hidup dengan pacaran? 
 Kalau seandainya yang demikian dapat mengantarkan kepada kebaikan tentulah Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkannya kepada kita.
Sesungguhnya Allah telah menyiapkan jodoh terbaik untuk kita mungkin jika kita tidak menemukan jodoh itu sekarang, pasti kita akan ditemukan dengan jodoh kita selama-lamanya di perjanjian suci yang di halalkan agama dan di sahkan oleh Rasulullah SAW. Dengan anda sebagai imam/istri yang sah darinya dan anda yang menjadi pengisi hatinya secara sepenuhnya dan yang menuntun dia menjadi kekasih anda dan kekasih surga. Ketika waktunya sholat, ajak dia sholat karena sesungguhnya ketika seorang imam mengimami istrinya ketika sholat merupakan anugrah cinta yang indah dari Allah.
Sebagai penutup saya nukilkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang posisi shaf laki-laki dan perempuan dalam sholat, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan :
ุฎَูŠْุฑُ ุตُูُูˆูِ ุงู„ุฑِّุฌَุงู„ِ ุฃَูˆَّู„ُู‡َุง ูˆَุดَุฑُّู‡َุง ุขุฎِุฑُู‡َุง ูˆَุฎَูŠْุฑُ ุตُูُูˆูِ ุงู„ู†ِّุณَุงุกِ ุขุฎِุฑُู‡َุง ูˆَุดَุฑُّู‡َุง ุฃَูˆَّู„ُู‡َุง
Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang pertamasejelek-jeleknya adalah yang paling akhir dan Sebaik-baik shaf perempuan adalah yang paling akhirsejelek-jeleknya adalah adalah yang paling awal”.
Maka renungkanlah kata-kata dibawah ini teman-teman ku:
apakah lebih layak orang –bukan suami istri­­– yang tidak sedang dalam keadaan beribadah kepada Allah untuk berdekatan, berdua-duan dan bermesra-mesraan serta merasa aman dari perbuatan menuju zina padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia mengatakan yang demikian !!!??
Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan :
ู…ุง ู†َู‡َูŠุชُูƒُู…ْ ุนَู†ْู‡ُ ، ูุงุฌْุชَู†ِุจูˆู‡ُ
“Semua perkara yang aku larang maka jauhilah
Teman-teman ku yang dimuliakan Allah, sesungguhnya jalan yang buntu adalah ketika kalian menghinggapi hal yang berbau dosa padahal teman-teman mengetahui bahwa hal itu adalah dosa.

Wassalamualaikum Wr.Wb 

Patient in Self Employers (Sabar dalam diri pengusaha)

Assalamualaikum Wr.Wb
Hallo kawan - kawan semua,, kembali lagi dengan saya di blog saya ini. Maaf, ya,, baru bisa pos lagi.. soalnya banyak urusan sekolah yang belum selesai.

 Kali ini saya akan membahas tentang sabar dalam diri pengusaha. Sebelum menginjak ke inti dari post saya ini, saya akan menjelaskan terlebih dahulu apa itu sabar.
     Sabar berasal dari kata sobaro-yasbiru” yang artinya menahan. Dan menurut istilah, sabar adalah menahan diri dari kesusahan dan menyikapinya sesuai syariah dan akal, menjaga lisan dari celaan, dan menahan anggota badan dari berbuat dosa dan sebagainya. Itulah pengertian sabar yang harus kita tanamkan dalam diri kita.


Dibawah ini saya akan memberikan contoh tentang sabar dalam diri pengusaha.
Berikut contohnya:

 Sabar itu maksudnya gimana? Saya lebih melihat kepada persoalan passion. Saya contohin, ada orang yang datang : " Don, saya dengar tanah yang itu lagi dijual tuh." Mendengar infromasi itu, kita langsung ambil jas dan jalan untuk mencari tau tanah yang mana karena kita pengusaha properti nih misalkan. Kemudian begitu dapat, orang tersebut bertanya " Tanah di mana dan berapa meter?".

 Kemudian dijawab "di daerah Tegal dan ada 1 hektar, tuh"
 
    Karena sedang ada duit terus langsung dibayarin aja, itu namanya nggak sabar. Ash-shobiriina nggak seperti itu. Kalau ingin masuk golongan sabar gimana? Setelah kita dapet info tentang tanah, amak kita bilang "Tanahnya di sebelah mana Don, nanti aku tanya Allah dulu deh." Zuhur nanti kita shalat, kita minta sama Allah temenin kita mau lihat tanah itu. "Itulah ash-shobiriina".
    Ash-shobiriina ini pengertian sabar yang perlu kita bawa ke mana-mana, tapi kita sempitkan untuk urusan pengusaha. Jenis sabar itu banyak, ada sabar dalam menggunakan uang, sabar dalam menggunakan kekayaan. Saudara dapet duit lalu ngga sabar maka akan cepat habisnya. Tapi kalau saudara dapet duit, sabar aja, kelola duit itu dengan teratur. Nah, prinsip ash-shobiriina inilah yang kita bawa ke dalam jiwa pengusaha kita.

  Teman-teman semua yang dirahmati Allah, sebenarnya semua orang bisa jadi pengusaha, tapi tidak semua orang mengerti cara jadi pengusaha yang benar menurut agama dan dihalalkan oleh tuhan, karena meskipun kita kaya dengan usaha kita. tapi usaha itu dari usaha yang haram maka kekayaan kita itu hanya bersifat fana dan tidak nyata. namun sebaliknya, apabila kita melakukan sebuah usaha dengan cara halal, berapapun hasil yang kita dapat tetap akan berkah dan tidak menimbulkan fitnah.

  Pesan dari saya untuk pembaca post saya ini, bahwa kemuliaan disisi Allah adalah ketika kita berusaha dengan hati dan melalui cara Halal.
   Itu saja dari saya, jangan lupa untuk di share karena mengeshare ilmu sama dengan mengeshare pahala.

Fakta Malam Laitul Qadar

  7 Fakta Malam Lailatul Qad'r



Hallo semua,, gimana puasanya? lancar - lancar saja kan? Karena di postingan pertama saya ini saya akan membahas salah satu berkah berpuasa di bulan Ramadhan. Berkah ini biasanya terdapat di 10 hari terakhir bulan puasa, jadi agan-agan semua harus puasa penuh agar dapat menikmati berkah Ramadhan ini.

    Berkah yang saya maksud adalah Malam Lailatul Qad'r (Malam yang bila seseorang beribadah dimalam ini maka ibadahnya setara dengan ibadahnya selama 1000 bulan).

Menurut berbagai sumber yang saya rangkum Lailatul Qadar atau Lailat Al-Qadar (bahasa Arab: ู„َูŠْู„َุฉِ ุงู„ْู‚َุฏْุฑِ, malam ketetapan) adalah satu malam penting yang terjadi pada bulanRamadan, yang dalam Al Qur'an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dan juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al Qur'an. Deskripsi tentang keistimewaan malam ini dapat dijumpai pada Surat Al-Qadar, surat ke-97 dalam Al Qur'an.

Etimologi

Menurut Quraish Shihab, kata Qadar (ู‚๏บฉ๏บญ) sesuai dengan penggunaannya dalam ayat-ayat Al Qur'an dapat memiliki tiga arti yakni 
  1. Penetapan dan pengaturan sehingga Lailat Al-Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Penggunaan Qadar sebagai ketetapan dapat dijumpai pada surat Ad-Dukhan ayat 3-5 : Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami
  2. Kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran. Penggunaan Qadar yang merujuk pada kemuliaan dapat dijumpai pada surat Al-An'am (6): 91 yang berbicara tentang kaum musyrik: Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada masyarakat
  3. Sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surat Al-Qadr. Penggunaan Qadar untuk melambangkan kesempitan dapat dijumpai pada surat Ar-Ra'd ayat 26: Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya)
Lailatul Qadar dapat juga kita artikan sebagai malam pelimpahan keutamaan yang dijanjikan oleh Allah kepada umat islam yang berkehendak untuk mendapatkan bagian dari pelimpahan keutamaan itu. Keutamaan ini berdasarkan nilai Lailatul Qadar sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Keistimewaan

Dalam Al Qur'an, tepatnya Surat Al Qadar malam ini dikatakan memiliki nilai lebih baik dari seribu, bulan .97:1 Pada malam ini juga dikisahkan Al Qur'an diturunkan, seperti dikisahkan pada surat Ad Dukhan ayat 3-6. 44:3

Waktu

Terdapat pendapat yang mengatakan bahwa terjadinya malam Lailatul Qadar itu pada 10 malam terakhir bulan Ramadan, hal ini berdasarkan hadits dari Aisyah yang mengatakan : " Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam beri'tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan dan dia bersabda, yang artinya: "Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Romadhon" " (HR: Bukhari 4/225 dan Muslim 1169). Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Lailatul Qadar kemungkinan akan "diwujudkan" oleh Allah pada malam ganjil, tetapi mengingat umat islam memulai awal puasa pada hari atau tanggal yang berbeda, maka umat islam yang menghendaki untuk mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar dapat "mencarinya" setiap malam. Agar kita yang menghendaki "mendapatkan" Lailatul Qadar, maka berbuka puasalah "sekadarnya" saja agar badan tidak "menjadi berat" dan malas serta menjadi sebab ngantuk dan mudah tertidur, sehingga yang kita inginkan untuk mendapatkan Lailatul Qadar tidak membuahkan hasil.





Kategori

Kategori